Bagi seorang profesional farmasi, bekerja menjadi seorang ahli bahan alam diera sekarang sepertinya masih menjadi pilihan yang sulit. Memang dapat kita sadari bahwa ketersediaan bahan alam yang kadang menjadi masalah terutama dalam hal keseragaman komponen kimia sehingga industri lebih tertarik menggembangkan produk kimia murni dari hasil sintesis. Namun, saya pribadi memiliki pendapat yang berbeda. Saya pikir industri bahan alam saatnya bangkit mengingat potensi bahan alam Indonesia cukup besar untuk bisa dikembangkan menuju sediaan farmasi terstandar. Bahan alam memiliki beberapa keuntungan yaitu jauh lebih murah, mudah didapat serta diproses menjadi suatu sediaan farmasi. Bahan alam dapat bersaing menjadi produk bernilai tinggi di pasar obat jika farmasi dan penggiat bahan alam mampu menonjolkan aspek kefarmasian terkait data farmakologi, farmakokinetika dan teknologi sediaan farmasi yang layak untuk digunakan masyarakat. Kita harus sadar bahwa dasar penemuan obat sintetis sebagian besar dari uji aktivitas senyawa kimia bahan alam, sehingga seharusnya bahan alam memiliki tempat yang layak untuk dijadikan obat dalam penanganan berbagai penyakit. Sebagai seorang farmasis sudah saatnya kita mulai kreatif, inovatif dan berpikir jauh kedepan untuk dapat mengembangan potensi bahan alam yang mampu bersaing di pasar obat global dan tidak menutup kemungkinan akan ada obat-obat baru untuk penyakit yang masih belum bisa disembuhkan didapatkan dari senyawa bahan alam.
Showing posts with label Herbal. Show all posts
Showing posts with label Herbal. Show all posts
Monday, 10 October 2016
Thursday, 28 July 2016
Kajian Farmakognostik Bawang Dayak
Bawang dayak adalah tumbuhan yang banyak tumbuh di pulau Kalimantan. Tumbuhan ini diyakini memiliki banyak khasiat dalam hal pengobatan penyakit. Bagian yang dimanfaatkan dari bawang dayak ini adalah umbinya. Khasiat bawang dayak yang pernah dilaporkan yaitu memperlancar aliran darah dan metabolisme tubuh, kesehatan reproduksi wanita, sistem pernapasan hingga pengobatan diabetes mellitus.
Kajian farmakognostik sudah dilakukan pada umbi bawang dayak yaitu identifikasi morfologi, organoleptis, identifikasi kandungan kimia dan uji dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan hasil seperti dibawah ini :
1. Pemeriksaan Morfologi
Berdasarkan hasil pemeriksaan morfologi tumbuhan Bawang Dayak yang diamati adalah akar, umbi, dan daun. Dapat dilihat bahwa daun Bawang Dayak merupakan daun tunggal, berbentuk memanjang lurus, ujung meruncing, pangkal berbentuk runcing, tepi daun rata, permukaan atas daun licin, permukaan bawah daun licin agak kasar, tulang daun sejajar, permukaan atas dan bawah daun berwarna hijau. Umbi diketahui berwarna merah agak hitam sedikit dan strukturnya berlapis-lapis. Sedangkan akarnya termasuk akar serabut dan berwarna coklat kekuningan.
2. Pemeriksaan Organoleptis
a. Hasil uji bau pada tumbuhan Bawang Dayak yaitu daun mempunyai bau yang khas. Umbi mempunyai bau khas. Akar mempunyai bau khas.
b. Hasil uji rasa pada tanaman bawang dayak yaitu daun rasa agak pahit, umbi mempunyai rasa agak pahit, dan akar rasanya agak pahit.
c. Hasil uji warna pada tanaman bawang dayak yaitu daun berwarna hijau berwarna merah agak hitam, dan akar berwarna kuning kecoklatan.
3. Uji Identifikasi Kimia
a. Alkaloid
Identifikasi terhadap alkaloid dilakukan dengan cara serbuk sampel digerus bersama HCl 0,5 N dan ditambah dengan pereaksi Mayer, akan menghasilkan endapan putih.
Hasil : +
b. Saponin
Pada uji ini, serbuk sampel ditambahkan air kemudian dikocok, setelah itu dibiarkan selama 30 menit. Hasilnya akan positif bila buih yang ada bertahan lama.
Hasil : -
c. Falvonoid
Uji flavonoid dilakukan dengan cara sampel digerus dengan akuades, disaring dan diteteskan sampel pada kertas saring kemudian diuapkan dengan amoniak. Jika positif akan dihasilkan warna kuning hingga orange.
Hasil : +
4. Hasil uji KLT
Hasil KLT menggunakan ekstrak metanol bawang dayak yang ditotolkan pada plat silika gel menghasilkan nilai Rf sebagai berikut :
Eluen 8 : 2
Rf = 0,333
Eluen 7 : 3
Rf 1 = 0,2
Rf 2 = 0,56
Eluen 6 : 4
Rf 1 = 0,417
Rf 2 = 0,65
Rf 3 = 0,767
Eluen 15 : 2 : 1
Rf = 0,333
Eluen 8 : 2 : 1
Rf 1 = 0,183
Rf 2 = 0,783
Eluen 6 : 2 : 1
Rf = 0,667
Monday, 25 July 2016
Alternatif Obat Jerawat Alami yang Jarang Diketahui
Jerawat adalah suatu
keadaan ketika pori-pori kulit tersumbat sehingga menimbulkan kantung nanah
yang meradang. Jerawat disebut juga acne
vulgaris.
Ada empat hal yang berhubungan dengan
patofisiologis acne vulgaris, yaitu :
1. Kenaikan
eksresi dari sebum atau sebore. Hal ini mungkin disebabkan karena konversi dari
hormon testosteron ke bentuk yang lebih aktif 5 alfa dihidrotes-tosteron.
2. Hiperkeratinisasi
dari saluran pilosebasea.
3. Proliferasi
dari kuman Propionibacterium acnes.
4. Adanya
peradangan yang disebabkan karena dihasilkannya faktor-faktor kemotaktik,
protease dan aktivasi dari komplemen.
Empat faktor utama yang
terlibat dalam pembentukan lesi
jerawat yaitu
peningkatan produksi sebum, peluruhan keratinosit, pertumbuhan bakteri,
dan peradangan. Peningkatan aktivitas androgen pada masa
pubertas memicu pertumbuhan
kelenjar sebasea
dan produksi sebum ditingkatkan. (Bergfeld, 2004 ; Dipiro dkk., 2009). Sebum terdiri dari gliserida, ester lilin, squalene, dan kolesterol. Gliserida diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh lipase, yang merupakan produk dari Propionibacterium acnes. Asam lemak bebas dapat mengiritasi dinding folikel dan menyebabkan peningkatan pergantian sel dan peradangan (Dipiro dkk., 2009).
dan produksi sebum ditingkatkan. (Bergfeld, 2004 ; Dipiro dkk., 2009). Sebum terdiri dari gliserida, ester lilin, squalene, dan kolesterol. Gliserida diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh lipase, yang merupakan produk dari Propionibacterium acnes. Asam lemak bebas dapat mengiritasi dinding folikel dan menyebabkan peningkatan pergantian sel dan peradangan (Dipiro dkk., 2009).
Terapi untuk penyakit kulit ini
menggunakan berbagai obat anti jerawat yang pada dasarnya digunakan untuk
mengurangi terjadinya inflamasi pada lesi jerawat dan juga mengurangi potensi
infeksi akibat bakteri jerawat. Suatu alternatif terapi dengan obat berbahan
dari alam juga sering digunakan, sebut saja menggunakan air perasan jeruk nipis
yang langsung dioleskan pada bagian kulit berjerawat. Hal ini cukup beralasan
karena air jeruk nipis diketahui mengandung senyawa antioksidan dan
antiinflamasi. Salah satu hasil penelitian oleh Joo SS dkk dari Research Institute
of Veterinary Medicine, Chungbuk National University menyebutkan ekstrak tumbuhan Selaginella
involvens
atau yang kita kenal sebagai tumbuhan paku, cukup efektif sebagai antiinflamasi
pada lesi jerawat. Hal ini terbukti dari studi in vitro yang dilakukan yaitu efektif dalam menghambat model sel
pada produksi nitric oxide (NO) dan
eksresi sel IL-1 beta. IL-1 alpha dan IL-8 cytokin yang distimulasi dengan Propionibacterium acnes yang
merupakan pemicu munculnya respon jerawat juga dihambat. Hasil ini cukup
menggembirakan dan dapat menjadi rujukan terapi alternatif untuk jerawat dengan
mengoleskan ekstrak dari tanaman tersebut pada lesi jerawat.
Biodiversitas
menjelaskan Selaginella
involvens
tumbuh dinegara Indonesia dan negara-negara Malesia yang tersebar menjadi
banyak spesies dibergabai pulau di Indonesia. Selaginella
involvens dapat tumbuh diberbagai iklim dan tanah dengan
keanekaragaman tertinggi di hutan huan tropis. Metabolit sekunder utama yang
terkandung di dalamnya adalah biflavonoid. Selain itu juga alkaloid, steroid
dan glongan tannin (Setyawan dan Darusman - Biodiversitas)
Sumber :
1.
Bergfeld,
W.F, 2004, The Pathophysiology of Acne Vulgaris in Children and Adolescents,
Part 1, Continuing Medical Education,
Vol. 74, 92-97
Ramuan Alami Menurunkan Kolesterol Darah
Berbagai
ahli mendefinisikan penyakit kolesterol atau hiperkolesterolemia merupakan keadaan dimana kolesterol didalam
darah berada pada tingkatan diatas normal. Berbagai istilah yang menggambarkan
kolesterol yaitu :
Kolesterol LDL
atau Low Density Lipoprotein adalah
sejenis kolesterol yang berbahaya, karena jenis kolesterol ini jika kadarnya
tinggi menimbulkan resiko tinggi pula
menimbulakan penyakit jantung dan stroke. Kadar yang baik dari kolesterol ini
adalah kurang dari 100 mg/dL, untuk ukuran normal antara 100 – 129 mg/dL,
ukuran yang cukup antara 130 – 150 mg/dL, ukuran yang tinggi antara 160 – 180
mg/dL dan ukuran yang paling tinggi mencapai angka lebih dari 190 mg/dL.
Kolesterol HDL
atau Hight Density Lipoprotein adalah
kolesterol yang baik, karena kolesterol jenis ini dapat membuang atau
mengurangi kolesterol jahat yang berlebihan pada pembuluh darah. Kadar normal
dari kolesterol ini adalah 40 – 50 mg/dL serta antara 20 – 60 mg/dL.
Trigliserida
adalah suatu jenis lemak yang ada dalam darah serta terdapat dalam berbagai
organ tubuh. Beberapa faktor yang dapat memicu trigliserida dalam aliran darah
adalah obesitas/kegemukan, gula, mengonsumsi alkohol, serta makanan yang
berlemak. Kadar normal dari kolesterol ini adalah kurang dari 150 – 199 mg/dL,
kadar tinggi antara 200 – 499 mg/dL dan kadar paling tinggi apabila mencapai
angka 500 mg/dL.
Ukuran
kadar kolesterol normal menurut WHO :
1. Kurang dari 200 mg/dL, ukuran ini merupakan
takaran kadar kolesterol yang normal. Artinya jumlah kadar kolesterol LDL, HDL,
serta Trigliselida masih kurang dari angka 200 mg/dL. Jika hal itu terjadi maka
resiko terkena penyakit jangtung akan semakin tipis atau sedikit.
2. Berada pada angka 200 – 239 mg/dL, ukuran ini
masih tergolong kolesterol cukup.
3. Lebih dari ukuran 240 mg/dL merupakan ukuran
kadar kolesterol yang tinggi, hal ini dapat memicu penyakit jantung korener.
Perkembangan
informasi mendorong perkembangan pengobatan berbasis herbal, salah satunya
pengembangan obat untuk mendestruksi kolesterol darah. Penemuan yang cukup
menggembirakan dewasa ini berupa formula antikolesterol alami dengan
menggabungkan berbagai tumbuhan berkhasiat anti kolesterol cukup efektif untuk
digunakan sebagai alternatif pengobatan. Formula tersebut terdiri dari umbi
bawang putih, jahe, lemon, madu dan cuka apel. Profil masing-masing bahan yaitu
:
Bawang
Putih :
Bawang
putih memiliki kemampuan yang cukup untuk menurunkan trigliserida darah dan
kadar kolesterol total dan mengurangi pembentukan plak pada arteri.
Jahe
:
Aktivitas
jahe sebagai penurun kolesterol dengan menghambat sintesis tromboksan yang
mengawali terbentuknya pembekuan. Jahe
bersama trombosit juga menghambat penggumpalan dalam darah. Jadi jahe
menghambat pembekuan darah dalam dua cara.
Jahe juga meningkatkankekuatan jantung. Para ilmuwan menyebut jahe agen
tonik jantung karena kemampuannyadalam meningkatkan produksi energi di dalam
hati dan dalam meningkatkan pemompaankalsium dalam jantung yang diperlukan agar
jantung bekerja optimal.
Lemon
:
Lemon
mengandung mineral esensial penting yang dikenal sebagai magnesium. Jantung
tidak dapat berfungsi dengan baik tanpamineral ini. Kurangnya magnesium dapat
menyebabkan denyut jantung tidak teratur, yang dikenal sebagai aritmia. Lemon
memiliki aktivitas antioksidan yang dapat melawan radikal bebas yang merusak.
Radikal bebas dapat menyebabkanperkembangan penyakit dan kondisi kronis seperti
penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan diabetes.
Madu
:
Dalam
kombinasi ini madu digunakan sebagai asupan untuk meningkatkan ketersediaan
nutrisi makanan pada pembuluh darah dan jaringan tubuh.
Cuka
Sari Apel :
Cuka
sari apel dapat secara efektif membersihkan arteri Anda. Cuka sari apel juga mengandung magnesium,
kalium & banyak mineral lainnya,vitamin & enzim.
Prosedur pembuatan
:
Bahan
:
a.
1 kg bawang putih
b.
1 kg jahe
c.
1 kg jeruk nipis/lemon
d.
1 botol cuka apel (300 mL)
e.
1 botol madu (500 mL)
Cara
Membuat :
a.
Haluskan jahe dengan blender (tambahkan
air 2 gelas) kemudian disaring, ambil air persannya.
b.
Blender bawang putih dengan air perasan
jahe
c.
Campurkan 300 mL air cuka dan air perasan
lemon pada campuran diatas.
d.
Panaskan dengan panci tanah/non
aluminium selama kurang lebih 30 menit.
e.
Setelah dingin masukkan madu 500 mL.
f.
Masukkan ramuan tersebut kedalam botol.
g.
Minum ramuan tersebut 1 sendok makan
setiap bangun tidur sebelum sarapan pagi.
Sunday, 24 July 2016
Pemanfaatan Gel Lidah Buaya Sebagai Anti Radang Topikal
Lidah Buaya (Aloe vera; Latin : Aloe barbadensis Milleer) adalah sejenis tumbuhan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan digunakan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat ditemukan dengan mudah di kawasan kering di Afrika.
Secara umum, Lidah Buaya merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebgai tanaman obat dan bahan baku industri. Berdasarkan hasil penelitian tanaman ini kaya akan kandungan zat-zat seperti enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida dan komponen lain yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Lidah buaya telah lama dimanfaatkan dalam dunia farmasi dan kosmetik, diantaranya yang dikenal luas adalah pemanfaatannya untuk bahan penyubur rambut.
Lidah buaya dengan tekstur lembut dan sensasi dingin juga dipercaya mampu mengurangi bengkak/radang topikal. Radang merupakan bagian dari proses inflamasi upaya tubuh untuk perlindungan diri, tujuannya adalah untuk menghilangkan rangsangan berbahaya, termasuk sel-sel yang rusak, iritasi, atau patogen dan memulai proses penyembuhan. Radang pada kulit disebabkan oleh berbagai sebab diantaranya pengaruh benturan, sengatan hewan, luka dan berbagai pemicu lain yang mengiritasi kulit.
Ekstrak lidah buaya dalam bentuk gel telah diujikan pada kaki tikus yang diinduksi dengan karagenin menunjukkan penurunan radang kaki tikus dan penurunan migrasi neutrofil. Ekstrak cair lidah buaya menghambat prostaglandin produksi E2 dari asam arakhidonat. Kandungan kimia tersari dari ekstrak etanol lidah buaya diketahui mengandung saponin, karbohidrat naftaquinon, sterol, triterpenoid dan antrakuinon. Kesimpulannya penggunaan gel lidah buaya yang diaplikasikan pada kondisi radang pada kulit efektif dapat menurunkan radang pada uji praklinik (tikus). Sehingga dasar penelitian ini dapat menjadi informasi pada masyarakat untuk dapat memanfaatkan potensi tanaman ini untuk pengobatan radang.
















