Antibiotik merupakan golongan obat yang digunakan untuk terapi penyakit akibat infeksi bakteri. Antibiotik memiliki sifat melemahkan bakteri (bakteriostatik) dan membunuh bakteri (bakterisida). Secara umum penggunaan antibiotik disesuaikan dengan jenis bakteri yang menginfeksi tubuh apakah dia gram positif atau negatif. Ada beberapa antibiotik yang spesifik untuk jenis bakteri tertentu namun ada juga yang dapat digunakan sebagai spektrum luas atau bisa untuk berbagai jenis bakteri. Berbicara tentang antibiotik maka erat hubungannya dengan kemungkinan munculnya reaksi efek samping obat, hipersensitifitas hingga potensi resistensi. Resistensi antibiotik adalah keadaan dimana bakteri yang sebelumnya dapat dihambat oleh antibiotik ternyata dengan kondisi yang sama dikemudian hari bakteri tersebut resisten/kebal sehingga perlu pemberiaan antibiotik dengan golongan yang lebih tinggi atau dapat dengan penambahan dosis ataupun terapi kombinasi. Pada dasarnya terjadinya resistensi bisa disebabkan akibat penggunaan antibiotik dibawah dosis yang seharusnya, pemberian dengan waktu yang tidak sesuai dengan seharusnya ataupun terjadi mutasi bakteri sehingga menjadi rentan dengan antibiotik.
Dewasa ini, peresepan antibiotik menjadi perhatian khusus, mengingat bahaya resisteni bisa melanda siapa saja dengan berbagai tingkat usia. Hal yang perlu disoroti adalah peresepan racikan antibiotik yang diberikan pada anak-anak. Resep racikan memang sudah menjadi kebiasaan di Indonesia karena kendala di negara kita belum punya sediaan obat padat/solid yang dikhususkan untuk anak. Misalnya sediaan tablet, kaplet, kapsul dan lain sebagainya. Sehingga racikan berupa serbuk menjadi pilihan utama dalam peresepan obat di pusat pelayanan kesehatan di Indonesia. Obat racikan dalam bentuk puyer santer diberitakan beberapa tahun ini dan menimbulkan kontroversi terkait stabilitas bahan obat dan kebersihan dalam pembuatannya. Terlepas dari itu semua, obat racikan harus juga dilihat dari komponen zat aktif yang dicampurkan. Jika puyer yang diresepkan mengandung antibiotik, maka seharusnya perlu adanya konfirmasi ke dokter untuk memisahkan antibiotik dari resep racikan tersebut. Hal ini cukup beralasan mengingat antibiotik sangat berpotensi mengalami resisteni pada dosis rendah. Bisa saja pembuatan sediaan puyer tersebut dilakukan tidak homogen, tidar seragam dalam hal pembagian dan lain sebagainya yang dapat mengurangi dosis yang seharusnya. Misalnya saja pada resep berikut :
R/ Amoxicillin 125 mg
PCT 100 mg
S.3dd P 1
m.f pulv dtd no XV
Pro : An. Nanda
Pada resep tersebut diketahui obat diindikasikan pada pasien anak yang didiagnosa menderita demam dan adanya infeksi. Kita ketahui bahwa amoxicillin sebagai antibiotik harus diminum hingga habis dan bisa saja demam akan berhenti sebelum masa minum obat selesai. Artinya, seharusnya kita tidak perlu minum obat demam sampai habis seperti minum antibiotik. Sehingga, kombinasi ini dalam satu resep racikan puyer tidak rasional untuk dibuat dan digunakan. Obat demam, dalam hal ini digunakan PCT 100 mg hanya diberikan saat demam dan dapat dihentikan ketika demam sudah sembuh. Hal sederhana seperti ini dapat menjadi alasan mengapa antibiotik seharusnya tidak menjadi satu sediaan kombinasi dengan obat lain dalam satu puyer. Praktik kefarmasian menuntut kita harus jeli dan hati-hati dalam bekerja, mengingat hal ini akan sangat fatal bagi pasien terutama risiko resistensi yang sangat tinggi dari penggunaan antibiotik secara sembarangan.



















